Jumat, 27 Juli 2012

Luna Kelam #CerpenPeterpan


Sudah hampir pukul 11 malam. Aku masih berada di kawasan terminal blok M menunggu bus yang akan mengantarku menuju kampung melayu. Sambil menunggu bus datang, aku melihat-lihat lukisan yang berada di lapak pinggir jalan. Seorang pelukis tua tampak sibuk menggambar, aku mendekatinya pelan-pelan karena takut menggangu konsentrasinya. Pelukis itu mewarnai kanvasnya dengan cat hitam yang cukup pekat, lalu ia memberi sedikit warna putih yang tipis pada kanvas hitam itu.

“Lukisan ini aku buat khusus untukmu.” Kata pelukis tua itu

Aku kebingungan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri

“Tidak usah bingung anak muda hanya ada kau di sini, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku berbicara padamu.” Lanjutnya
“Untukku? Kenapa?” Tanyaku dengan nada heran
“Ya, karena lukisan ini tercipta saat aku melihatmu berjalan dari seberang sana.”
“Lalu apa maksud lukisan ini? Hanya warna hitam dan sedikit warna putih.”
“Ini tentang dirimu, anak muda. Kisah cintamu yang coba kau sembunyikan.”
“Maksudmu?”
“Wajahmu, lalu cara berjalan dan gestur tubuhmu itu telah menunjukkan padaku jika kau punya masalah dalam percintaan.”
“Kau pasti hanya menerka-nerka saja bukan?”
“Mungkin kau tidak percaya padaku, namun semua orang yang datang ke sini pasti punya masalah percintaan.”

Tiba-tiba tubuhku gemetar, entah apa yang terjadi.. mungkin saja karena angin malam yang dingin. Aku pun mengambil rokok kretek dari saku kemejaku, kemudian membakarnya dan menghisapnya dalam-dalam.

“Siapa kau sebenarnya, pak?” Tanyaku
“Aku hanya seorang pelukis tua, nak.”
Aku terdiam memandang pelukis tua itu, dia menggoreskan kuasnya dengan hati-hati pada kanvasnya.
“Siapa nama wanita itu? Tanyanya
“Wanita? Wanita apa? Jawabku kebingungan
“Wanita yang membuatmu seperti ini. Jika kau mau, kau bisa menceritakannya padaku”

Aku terdiam beberapa saat.

“Luna, wanita itu bernama Luna.”
“Lalu apa yang terjadi antara kau dan Luna?”

Seketika pikiranku berputar dan kembali mengingat saat terakhir aku bersama Luna. Bandung, akhir September minggu ke-dua setelah lebaran. Aku dan Luna duduk di sebuah coffee shop yang bernuansa klasik, kami sama-sama terdiam memandang gelas kopi yang sudah hampir habis, sementara itu sayup-sayup terdengar sebuah lagu dari speaker tua yang berada di pojok ruangan.

Pernah ku simpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
Jujurku hanya sesalkan diriku

“Kamu yakin dengan pilihanmu itu?” Tanyaku
“Entahlah, tapi aku harus yakin.” Jawab Luna
“Kenapa seperti itu? Bukankah itu sama saja membohongi hatimu sendiri?”
“Mengertilah Aksara, sepertinya dia memang lelaki yang tepat untukku.”
“Percayalah Luna.. dia bukan orang yang tepat, aku hanya kalah cepat.” (*)

Luna terdiam, aku memandang wajahnya tanpa pernah sedikitpun mengalihkan pandanganku. Wanita yang kucintai ini akan menikah dengan kekasihnya, dengan pria yang lebih dulu memilikinya jauh sebelum aku mengenalnya.

Kau tinggalkan mimpiku
Dan itu hanya sesalkan diriku

“Lalu, kau membiarkan Luna menikah dengan lelaki lain?” Tanya pelukis tua itu
“Ya, aku merelakannya pak. Aku mengenal Luna saat dia sudah menjadi kekasih orang lain”
“Kenapa? Kau tidak mau memperjuangkan cintamu?”
“Bukan, bukan seperti itu pak.. hanya saja aku berpikir jika perasaan cinta ini malah menyakiti orang lain, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Mungkin ini memang belum saatnya untukku dan Luna.”
“Hahahahaha… Jangan bilang jika kau ini tipe orang yang percaya jika cinta tidak harus memiliki.”
“Memang, aku meyakini hal itu.” Jawabku sambil mematikan rokok
“Dengar aku baik-baik, nak. Jika cinta tidak harus memiliki maka tidak akan ada orang yang mau menikah.”
“Memang betul, tapi jaman sekarang banyak kok orang yang menikah tanpa cinta.”
“Ya, dan mereka tidak bahagia.”

Aku terdiam lagi, namun entah apa yang bisa aku lakukan saat ini. Luna sudah menikah dengan lelaki pilihannya, sementara aku masih terjebak dalam bayang-bayangnya.

“Lalu, aku harus bagaimana pak?”
“Duduklah nak, tempat ini memang disediakan untuk mereka yang sudah lelah dengan cinta. Beristirahatlah sejenak, ajak masa lalumu berbicara baik-baik lalu ucapkan perpisahan setelahnya.”

Aku duduk di samping pelukis tua itu, sementara dia menambahkan sedikit warna kuning di sudut kiri atas lukisannya.

“Selesai sudah, lukisan ini untukmu nak.” Kata pelukis tua itu sambil menyerahkan kanvasnya

Aku menatap lukisan hitam berselimut kabut putih yang ada sedikit gambar bulan tertutup awan di bagian atasnya.

“Lukisan ini kuberi judul Luna kelam, ya ini menceritakan kisah cintamu bersama Luna yang terselimuti kabut tipis. Lupakan dia nak, kelak kau akan menemui cinta yang sesungguhnya dimana keadaan bisa menerimamu baik-baik.”
“Terima kasih, pak.. semoga saja.” Jawabku sambil terus memandang lukisan itu

Tiba-tiba saja pelukis tua itu menghilang dari hadapanku, aku terdiam memandang lukisan Luna kelam. Mungkin memang ini saatnya aku melupakan Luna dan melanjutkan hidupku sebagaimana mestinya.

Ku harus lepaskanmu, melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku hanya harap
Jauh ku jauh mimpiku dengan inginku


nb: (*) sebaris kata dari twitnya @frzlt & judulnya terinspirasi dari lagunya Erros So7 yg buat (alm) Chrisye




1 komentar: