Tampilkan postingan dengan label duetmaut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label duetmaut. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

Senja di Batas Khatulistiwa (Final)


Kepada para pembaca yang setia mengikuti perkembangan kisah cinta Sersan Djatmiko yang sudah tidak sersan lagi dan Suster Susi yang tentu saja tidak ngesot..

Sebelumnya, kami, Anita dan Wira, menyampaikan terima kasih karena sudah setia membaca dan mengikuti kisah cinta Sersan dan Suster yang absurd ini, walaupun kami tau sebenarnya kalian juga membaca cerita ini dengan 89,32452% unsur ketidak sengajaan. Entah tidak sengaja link-nya ke-klik, atau Anda sedang dalam keadaan ngantuk, ataupun di bawah pengaruh Actifed. Kami tetap mengucapkan terima kasih atas kesetiaan Anda membaca seri surat cinta yang ngawur namun tulus ini.

Namun dengan postingan kali ini, kami mohon maaf dan dengan menyesal menyampaikan bahwa kami tidak akan lagi memaparkan lanjutan kisah cinta mereka berdua di dalam blog kami lagi, karena.........we're preparing a better way for you to read about them :)
Sampai saat ini masih dalam tahap penyusunan dan brainstorming antara Wira dan Anita. But we promise you that we will not disappoint and make you wait. Ini adalah salah satu cara kami untuk berterima kasih kepada kalian. You deserve a better way to read :)

Apakah Susi pada akhirnya akan terpaksa menikahi Soetopo yang bentuk rupanya seperti kain lap yang habis dipakai membersihkan guci tua, demi keselamatan papinya? Atau akhirnya Djatmiko akan dengan selamat sentosa berhasil menghampiri Susi dan menikahinya dengan restu orang tua Susi? Silakan nantikan kelanjutannya ;)

Once again, we thank you so much for reading the whole love story thing between Mas Djatmiko and Dik Susi. Tunggu tanggal mainnya! :D

Warm regards,
Wira & Anita

Jumat, 04 Januari 2013

Senja di Batas Khatulistiwa #9


Kepada Susi Marina Dewi,

Sebelumnya perkenalkan nama saya adalah Sersan Fuad Alkatiri, maaf jika saya lancang menulis surat untuk dik Susi. Sejujurnya ini adalah permintaan dari Letnan Djatmiko Hardjotaruno kekasih dik Susi. Beliau sudah tidak sersan lagi saat ini, karena jasa dan keberaniaannya dalam perang beliau mendapat tanda jasa serta kenaikan pangkat.

Baiklah dik Susi, tujuan surat ini sebenarnya untuk memberitahukan kondisi Letnan Djatmiko. Beliau dalam perjalanan menuju rumah dik Susi seorang diri, jika dalam 2 minggu ia tidak sampai di sana kemungkinan terjadi sesuatu dalam perjalanan. Karena beliau pergi melalui jalan darat yang sebenarnya masih dikuasai musuh di beberapa titik sehingga beliau mempercayakan saya untuk memberi kabar kepada dik Susi. Mengingat kondisi fisik beliau yang sudah tidak sempurna itu kemungkinan akan memakan waktu yang lumayan lama di perjalanan.

Pesan beliau kepada dik Susi agar terus berdoa dan percaya jika cinta sejati itu ada. Beliau sempat berkata pada saya “walaupun kondisi saya tidak sempurna lagi, tapi cinta saya untuk Susi Marina Dewi adalah suatu kesempurnaan.”

Semoga anda terus menjaga cinta Letnan Djatmiko yang besar dan tahan lama itu. Oh iya, mengenai laki-laki yang bernama Soetopo itu, kami akan siap membantu menghalangi keinginannya untuk menikahi dik Susi, kebetulan beberapa prajurit sudah disiagakan oleh letnan Djatmiko untuk menjaga dik Susi di sana sampai ia tiba.

Semoga kebahagian segera datang untuk kalian berdua.


Salam Kompak Selalu,


Sersan Fuad Alkatiri



Kamis, 23 Agustus 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #8 - Djatmiko

Dik Susi Marina Dewi...

Apa kabarmu dik? Akhirnya aku berhasil lolos dari serbuan maut di gunung, rupanya Tuhan masih ingin kita bertemu. Saat ini aku sedang berada di rumah sakit daerah untuk penyembuhan luka-luka pasca perang. aku baru saja membaca suratmu kebetulan pak pos sedang berkunjung dan dia memberikan beberapa surat darimu yang tidak sempat aku terima karena sedang dalam peperangan.

Dik Susi,

Apakah dengan terpaksa kau akan menerima pinangan anak walikota yang bernama Soetopo itu?
Apakah demi orang tuamu kamu merelakan dirimu?
Ah, aku sungguh menyesali diriku yang tidak bisa berbuat banyak saat ini.
rasanya hati ini hampir mampus dikoyak-koyak sepi tiap kali aku memikirkan hubungan kita.

Kamu tahu dik?

Setiap hari aku merajut mimpi tentang kita dengan benang-benang rindu, namun selalu saja ada jarum sepi yang menusuk jemari mimpiku. rasanya sakit sekali.
Dan saat ini dik, entahlah bagaimana rasanya... aku tahu, keadaan tidak akan lebih baik meski aku mengatakan "aku baik-baik saja."

Baiklah dik, insya Allah minggu depan aku akan datang menemuimu. aku ingin menjemputmu dan berbicara baik-baik dengan keluargamu. aku sadar banyak sekali perbedaan antara aku dan kamu namun kita sama dalam satu hal. kita saling mencintai dengan cara yang sama meski dengan keyakinan yang berbeda.

Sesungguhnya dik, ada satu hal yang harus aku katakan padamu mengenai kondisiku saat ini... Dari 5 tentara yang tersisa di gunung saat itu hanya aku dan sersan Fuad yang masih hidup. namun ada satu kenyataan pahit dik, saat aku membopong sersan Fuad.. kaki kiriku tertembak dan kini... kakiku terpaksa diamputasi. Apakah kamu masih akan menerimaku dengan keadaan seperti ini?



Yang sedang dilanda rindu membabi buta..



Sersan. Djatmiko Hardjotaruno


ps: balasan surat bisa dibaca --> di sini






Kamis, 19 Juli 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #7 - Djatmiko


Dik Susi

Entah sudah hari apa dan tanggal berapa ini, aku tidak ingat lagi. Dik Susi aku tidak tahu apakah suratku untukmu sampai atau tidak, yang pasti aku tidak menerima sepucuk surat pun darimu. Ya aku tahu jika itu semua karena keadaan tidak memungkinkan. Akan sulit untuk seorang tukang pos datang dan mengantar surat ke medan perang ini. Tapi tak apa dik, aku akan terus mengirimkan surat demi mengabarkan keadaanku, aku tidak ingin membuatmu khawatir.

Oh iya, apakah saat ini kamu sudah kembali ke Jakarta? Ke rumah orang tuamu? Apakah kamu sudah menceritakan tentang kita? Apakah mereka menentang kita? Aku harap apapun jawaban mereka, itu adalah hal yang terbaik untukmu.

“Amare non est peccatum – Cinta itu bukan dosa”

Itu adalah kata-kata yang selalu aku percaya..aku lupa itu kata-kata darimana, yang aku tahu setiap orang berhak jatuh cinta pada siapa saja. Aku percaya jika Tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan hambaNya bukan untuk memisahkan. Dik Susi aku berharap bisa segera meninggalkan tempat ini dan segera menemuimu. Semoga saja kamu memang diciptakan Tuhan dari tulang rusukku.

Saat ini aku masih bersembunyi dari kejaran musuh, sedang hujan juga…hanya saja, hujan kali ini tidak cuma turun dari langit tapi juga dari mataku yang menyimpan banyak rindu untuk memandangmu.


Di antara terjangan rindu


Sersan. Djatmiko Hardjotaruno





ps: balasan surat ini bisa dibaca ---> di sini




Jumat, 22 Juni 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #6 - Djatmiko


Dik Susi,


Maaf aku terlambat membalas suratmu, saat ini aku sedang terjebak di hutan gunung leuser. Para pengkhianat mengepung kami dari berbagai arah dan terpaksa kami harus bersembunyi di hutan untuk beberapa hari sampai bantuan tiba. Aku juga tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu atau tidak, semoga saja bisa sampai.


Jika aku berhasil lolos dari hutan ini, aku berjanji akan segera datang ke sukabumi untuk menjemputmu, lalu kita sama-sama ke Jakarta dan menghadap ke orang tuamu untuk membuktikan kesungguhanku, kita akan hadapi semua bersama.

Sejujurnya, prajurit yang tersisa saat ini hanya 5 orang saja.. yang lainnya sudah gugur saat posko kami mendapat serangan dadakan sehabis sholat subuh. Dik Susi, jika terjadi sesuatu padaku nanti… aku harap kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku walau aku tidak ingin itu terjadi.


Dik susi, aku masih ingin menikmati senja bersamamu… melingkarkan kedua lenganku dipinggangmu dan membisikkan rindu pelan-pelan ke telingamu, agar kau tahu betapa besar rindu yang telah aku kumpulkan sampai keadaan bisa menerima kita baik-baik.


Dan kali ini, rindu kita yang rapuh hanya bisa mengeluh ketika mengingat seseorang jauh…kamu dan aku.


Seandainya saja Tuhan mempertemukan kita kembali, aku berjanji tidak akan meminta apa-apa lagi pada Tuhan, karena aku hanya ingin kamu.


Di antara serbuan peluru rindu,


Sersan. Djatmiko Hardjotaruno


ps: balasan surat ini bisa dibaca ---> di sini





Jumat, 08 Juni 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #5 -Djatmiko


Dik Susi Marina Dewi…

Senang rasanya membaca balasan surat darimu, rasa senangnya seperti bahagia gembira gitu. Ngerti kan ya maksudku? Pasti ngerti dong..

Oh iya dik, minggu depan aku akan dipindah tugaskan ke Aceh. Aku dimasukkan dalam anggota Kopasus.. bukan kopi pake susu loh, soalnya kan aku gak suka kopi tapi sukanya susu. Apalagi susu hasil memerah sendiri, rasanya segar sekali. *aku meremas spons saat ini* *maklum aku menulis sambil mencuci piring*

Dik Susu eh maksudku dik Susi yang tercinta…

Sejujurnya aku pun masih merahasiakan tentang sosokmu dari orang tuaku, aku tidak ingin berdebat dengan mereka. Tapi percayalah, suatu saat nanti pasti aku akan mengenalkanmu pada mereka dan meyakinkan jika kita berdua saling mencintai sepenuh hati, selalu, selamanya, tak terpisahkan.

Oh iya dik Susi, jika nanti aku di Aceh…hmm.. kemungkinan besar aku akan bermarkas di sebuah gunung yang jauh dari pemukiman warga. Mungkin beberapa surat yang aku kirimkan ataupun kau kirimkan akan datang sedikit terlambat. Aku harap kamu bisa mengerti itu.

By the way, aku harus segera melakukan latihan perang sebentar lagi… bersabaralah dik, aku selalu mendoakan yang terbaik dalam hubungan kita ini, untuk saat ini biarlah kisah ini Martabak..eits bukan makanan kesukaanmu tapi Martabak itu Mari kita tebak-tebak.


Kecup basah sambil mendesah,


Sersan. Djatmiko Hardjotaruno




balasan surat ini bisa dibaca --> di sini





Selasa, 05 Juni 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #4 - Djatmiko


Hai dik Susi yang Yahud dan Cihuy...

Senang sekali membaca balasan suratmu dik,
Tenang saja, seperti apapun tulisanmu akan selalu menyenangkan untukku.

Waah.. kamu bertemu dengan Romy dan Romi ya? Eh itu orang yang sama bukan sih? jadi bingung.. dulu kan yang aku kenalin ke kamu namanya Rohana, udah jadi cowo ya dese? Yaolo tolong.

By the way, kamu gak usah khawatir soal surat menyurat kita ini… toh, ini hanya untuk sementara sampai aku selesai bertugas membela bangsa ini dan segera pulang kepelukanmu. Percayalah kita punya cinta yang besar untuk dipertahankan keutuhannya.

Dik Susi…
Kita jatuh cinta dalam banyak perbedaan dan terpisah oleh jarak tapi semua itu bisa kita atasi sampai sejauh ini, jadi janganlah kamu berpikir untuk menyerah. Kamu tahu dik? Aku selalu menyebut banyak namamu dalam setiap doaku… bahkan seringkali namamu lebih banyak kusebut daripada nama Tuhan. semoga Tuhan tidak Jealous ya.

Dik Susiku..
Kita memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam hubungan kita ini, Tuhan kita, cara kita berdoa, cara kita menyebut nama Tuhan dan suku kita yang juga berbeda, tapi kita punya satu persamaan yang dapat mengalahkan perbedaan itu. Kita sama-sama saling mencintai sepenuh hati. Maka jagalah kesamaan kita yang hanya satu-satunya itu, dik. oke dik? sip ya.

Dik Susi yang kurindukan selalu.
Janganlah kamu pernah berpikir untuk menyerah pada keadaan ini. Sadarilah jika rindu adalah bukti jika kamu memiliki cinta yang besar kepada orang yang kamu rindukan itu. Kebahagiaan tidak hanya datang dari pertemuan, tapi juga dari rasa saling percaya antara kita dan bahkan mungkin juga kebahagiaan itu datang dengan sangat sederhana seperti selembar surat ini. Seperti aku yang selalu merasa bahagia setiap pak pos datang dan membawa surat darimu.

Oh iya dik Susi, sudah hampir maghrib di makasar… aku mau bersiap ke masjid dulu ya dik. Kamu jangan lupa ke gereja. Buktikan pada Tuhan jika kita pantas untuk bersama meski dalam perbedaan. Biar Tuhan percaya… aku dan kamu.

Salam hangat kecup macho dalam iringan beribu doa,

Sersan. Djatmiko Hardjotaruno


ps : balasan surat ada di sini

Jumat, 01 Juni 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #3 -Djatmiko


Kepada dik Susi yang-muaccch di hatiku…

Senang sekali membaca balasan suratmu, by the way ada juga ya bule yang mirip sama aku di tempatmu bekerja. Senang mengetahui jika aku mirip dengan bule itu walau hanya mirip di umurnya saja. Tapi perlu dik Susi ketahui jika akupun masih ada keturunan campurannya, kebetulan ibuku berasal dari jawa dan ayahku seorang abri… maka lahirlah aku yang keturunan jawa-abri.

Dik Susi yang SUnggu SIntal  body-nya, kamu tidak usah khawatir akan keadaanku di sini… aku baik-baik saja, kamu tenanglah. Aku ingin jika semua sudah selesai  dan aku menghampirimu, kamu SUSI alias SUdah SIap untuk membawa hubungan kita ke tahap yang lebih serius.

Dik Susi yang SUngguh SImpatik  terhadapku, percayalah aku terus menjaga hati ini untukmu… tak pernah sedikitpun terlintas dibenakku untuk mencari penggantimu, karena aku akui jika aku sudah sangat SUSI alias SUka SIkapmu kepadaku yang begitu tulus, lembut dan berhati besar.

Dik Susi yang SUdah SInggah di hatiku, aku sesungguhnya belum tahu pasti kapan akan dikirim ke Aceh tapi yang pasti dalam waktu dekat ini, aku pasti akan mengabarimu jika sudah ada kepastian dari para Jendral. Dik Susi yang SUkarela SIap membantu merawat para pejuang bangsa, aku harap kelak pertemuan kita nanti tidak SUSI alias SUngguh SIngkat karena aku ingin selamanya bersamamu dan tak terpisahkan lagi.

Oh iya dik Susi yang SUka SIul-siul, janganlah kamu insekyur karena insekyur hanya akan merusak your heart pure. Oke dik Susi. Dan satu lagi… soal martabak, nanti kita buat sama-sama ya martabaknya *kedip manja* *senyum genit* *jawil dagu*

Cumbu mesra membabi buta,

Sersan. Djatmiko Hardjotaruno


ps : balasannya bisa dilihat di sini

Selasa, 29 Mei 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #2 - Djatmiko


Halo dik Susiku yang semlohay…

Surat darimu baru saja tiba diantarkan oleh pak pos berkumis tipis dengan senyum sok manis yang suka meringis. Hampir saja aku menangis menunggu suratmu yang tak kunjung tiba itu, manis.

Lega rasanya mengetahui kamu baik-baik saja, rasanya seperti melepas sepatu dan kaus kaki setelah seharian bekerja…sungguh menyenangkan, andai saja kau tahu bagaimana rasanya memakai sepatu prajurit, sungguh berat dan tidak nyaman sama seperti perasaanku saat merindukanmu namun tidak bisa memelukmu…. Tragis tapi romantis, Sadis tapi manis, Meringis tapi teriris.. begitulah.

Dik Susiku yang aduhai, aduh cantiknya.
Surat darimu beberapa kali membuatku tertawa ternyata kamu lucu juga ya, ah rasanya ingin mencubit-cubit gemas pinggangmu yang berbalut seragam perawat itu. Kamu benar-benar gadis pujaanku.

Dik Susi… aku bangga padamu yang dengan ikhlas mau menolong sesama dan mengobati penyakit mereka. Tidak salah aku memperjuangkanmu dan cinta kita.

Oh iya dik, sepertinya bulan depan aku akan dipindah-tugaskan ke Aceh untuk menjaga keamanan di sana, karena pemberontak sudah semakin menjadi-jadi. Jika semua sudah aman, aku berjanji akan segera menemuimu untuk menuntaskan semua kerinduan ini.

Aku, kamu di antara jarak yang memaksa kita memeluk sepi sendiri-sendiri... Hingga mungkin hanya tulisanmu di surat yang jadi penghangatnya.

Atas nama cinta dan bangsa Indonesia, aku merindukanmu.

(Sersan. Djatmiko Hardjotaruno)




balasannya ada di sini


Jumat, 25 Mei 2012

"Senja di Batas Khatulistiwa - Djatmiko"


Kepada yang tersayang,

Susi Marina Dewi.

Apa kabarmu hari ini dik? semoga baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Tuhan YME. Amin.

Aku di sini baik-baik saja dan masih terus berusaha mewujudkan mimpi kita untuk segera bertemu dan menyatu dalam cinta yang abadi. Kamu tahu dik? Semalam aku memimpikan kamu, kita berpelukan lama sekali, sampai-sampai isi mimpinya cuma pelukan saja hingga aku terbangun.

Rasanya senang sekali, aku terbangun sambil senyum-senyum sendiri. Dalam hati sih “Kok ya bodohnya aku, kenapa cuma meluk aja? Kenapa gak cium-cium juga atau apalah, mumpung dalam mimpi.” eh maaf loh dik, aku hanya bercanda tapi kalau adik mau seriusin… aku sih ayo saja.

Kamu tahu dik Susi? Aku rindu sekali sama kamu, rasanya seperti mencabut bulu hidung tapi tidak berhasil. Bulunya tidak dapat tapi sakitnya minta ampun. Akupun begitu, kangennya dapat tapi kamunya jauh sekali.

Dik Susi yang aku cintai sepenuh jiwa raga, aku ingin sekali suatu hari di malam minggu kita dapat bertemu dan berbagi cerita sambil menikmati martabak keju yang berlumuran mentega wisjman, bisa kau bayangkan aroma dan rasanya? Sungguh menggiurkan seperti dirimu.

Ah, andai saja semua bisa berjalan lancar dan mudah untuk kita…

Dik Susi yang berbesar hati, senang rasanya bisa menjadi bagian hidupmu meski dalam banyak perbedaan. Tuhan kita yang berbeda, kota kita yang berbeda dan kelamin kita yang juga berbeda tapi semua itu tidak menyurutkan semangatku untuk memperjuangkan cinta kita.

Hari ini dik Susi, saat aku menulis surat untukmu di tepi pantai Losari… Senja tampak muncul malu-malu, pasti karena kau sedang cantik-cantiknya saat itu dan tentunya semakin cantik setiap harinya.

Semoga kita cepat bertemu.

“ Minum jamu bikin kebat kebit, kalau bertemu aku mau cubit-cubit .”



Cumbu mesra membabi buta,


(Sersan.Djatmiko Hardjotaruno)                                                                             



ps : balasan surat dari dik Susi bisa diklik di sini